Wednesday, May 8, 2013

MATURE RELIGION




“Sebuah Puisi, Sebuah Kajian Akademis, Sebuah Perjalnan Menuju Kedamaian”

Oleh: Muhammad Barir*




A.    Konversi Agama: Sebuah Pendahuluan
Beberapa saat lalu aku belajar mengenai konversi agama yang menjelaskan bagaimana perjalanan seorang anak manusia dalam melakukan pilihan yang akan sangat menentukan jalan hidupnya kedepan, sebuah pilihan yang ia lakukan karena kesadaran bahwa itu merupakan hal yang harus ia lakukan, setelah berbagai badai yang dilaluinya,  manusia berteriak dan merengek bagai anak kecil yang tersesat yang saat itu mencari orang tuanya, mencari rumahnya, mencari kedamaian. Tiada yang bisa membantunya dalam gelapnya sudut ruang sempit di hatinya, sampai akhirnya ia menemukan sinar itu pada apa yang biasa orang sebut dengan agama.
Agama menjadi harapan bagi orang yang tersesat dan orang yang putus asa terhadap dirinya. Agama menjadi tempat kembalinya manusia, tempat mencurahkan setiap tetes air mata. Saat itulah manusia melakukan konversi yakni guncangan batin yang mengantarkan manusia menuju perubahan yang besar kearah yang lebih baik.
Ha,, ha,, terlihat lucu memang, tapi cukup mengharukan untuk sekedar memahaminya, apakah manusia harus mengalami putus asa atau kegagalan terlebih dahulu sebelum ia mengenal dan tahu jalan terbaiknya? Apakah jika tak diuji, manusia tidak akan bisa menemukan jalan cahaya? Adakah kau tahu perihal kisah orang yang tak pernah mendapat ujian? Adakah hidupnya lebih baik?. Jika kau tahu, ceritakanlah kepadaku wahai sobat?
B.     Mature Religion
Beberapa saat tadi ku duduk di kursi sebuah ruangan lantai tiga UIN Yogyakarta mendengarkan dosen yang mencoba menjelaskan tentang kematangan beragama yang disebut Mature Religion, disebut “kematangan beragama” bukan “kematangan agama” karena beragama adalah sesuatu yang dialami manusia, agama tetaplah agama sebagaimana ia difahami dan didefinisikan, namun, yang menjadikan ia berbeda adalah disebabkan manusia yang menjalaninya secara berbeda-beda.
Pertumbuhan keberagamaan manusia mengiringi pertumbuhan fisik manusia, jika pertumbuhan fisik bisa ditentukan dan dilihat dengan indera, tentang perubahan dari fase embrio, bayi, anak-anak, remaja, dewasa, dan tua, beda halnya dengan pertumbuhan keberagamaan yang tidak bisa diterka dengan indera.
Sebenarnya apa itu kematangan beragama dan bagaimana cirinya?
Mari kita lihat dari sisi ahli psikologi agama, seorang psikolog W. James mengatakan ada tiga kriteria yang menggambarkan kematangan beragama:
1.      Sensibilitas atau merasakan kehadiran tuhan”. Sebenarnya dimana tuhan itu? Apakah ia bisa dicari? Mengapa tuhan dicari, apakah karena ia pernah pergi atau apakah ia pernah hilang? Tapi tidak wahai saudaraku.. kita tidak harus mencari tuhan, namun kita harus merasakanya, untuk itu sensibilitas menjadi hal yang berharga, karena tidak semua orang bisa merasakan kehadiran tuhan.
2.      Kesinambungan dan pasrah”. Manusia diciptakan mudah sekali mengalami kebosanan, hati manusia mudah sekali berpindah-pindah kesinambungan atau istiqomah adalah hal yang bertentangan dengan sifat dasar atau fitroh manusia, apakah sesulit itu wahai sahabat, apakah sesulit itu upaya kita dalam merasakan kehadiran tuhan. Selain itu kita dituntut pasrah atau berserah, apa lagi ini? Belum aku bisa melangkah pada tahap merasakan tuhan, pikiranku sudah terbebani dengan keharusan batinku untuk selalu berserah, jika berserah merupakan kewajiban bagi manusia berarti manusia yang baik adalah manusia yang selalu mengikuti aliran taqdirnya, masalahnya jika aku berserah pada taqdir bagaimana aku bisa berusaha dan berupaya, atau memahami semua ini memang belum cukup bagi mahluq sekelas diriku. Antara pasrah dan upaya, antara terus berjuang dan putus asa, mana diantara kalian yang harus ku pilih? Apa definisi pasrah yang sebenarnya?.
3.      Kedamaian. Pada akhirnya inilah yang dicari semua orang, kedamaian adalah sebuah oase di tengah padang pasir, lebih berharga dari emas, lebih tinggi dari gunung yang tertinggi, lebih dalam dari palung yang terdalam, ha ha banyak sekali perdebatan mengenai kedamaian. Kira-kira siapa di antara kita yang bisa mencapainya? Akan ku minta bagaimana cara meraihnya.
Gus Dur atau K.H. Abdurrahman Wahid yang menafsirkan kata al-Silmi pada surat al-Baqarah ayat 208 :
Lucunya, penafsiran Gus Dur bertentangan dengan terjemahan departemen agama, departemen agama menerjemahkan seperti ini: Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya,[1]
Sedangkan menurut Gus Dur, kata silmi pada redaksi ayat “udkhuluu fi al-Silmi Kaaffah” ialah memiliki arti “kedamaian[2] jadi tidaklah ayat itu bernada memaksa tiap orang masuk pada agama Islam sepenuhnya, namun lebih pada titik tekan harapan agar manusia itu selalu damai, baik dari berbagai background keagamaan, etnis, ras, budaya, maupun bangsa yang berbeda.[3] Tentunya dari pernyataanya, Gus Dur banyak dikritisi oleh para ulama, amun ternyata apa yang diucapkan Gus Dur ini tidaklah tanpa dasar, memang sekilas terlihat sangat ekstrim, namun Jika dicermati lebih dalam, pernyataan K.H. Abdurrahman Wahid ini sesuai dengan penafsiran Fazlur Rahman dengan menggunakan analisis semantik, bahwa kata s-l-m memiliki arti, Aman, utuh, dan integral. Menurutnya kata s-l-m dengan bentuk mashdar silm memiliki arti “damai” QS. al-Baqarah [2]:208, bentuk salam memiliki makna “utuh” QS. Az-Zumar [39]:29, dan mashdar mengikuti bentuk madhi aslamaislam yang biasanya diikuti dengan lillah memiliki makna menyerahkan dalam arti “berserah-pada Allah” as-Silm adalah konsep Dharma yang islami.
C.     Akhir Jalan..
Terakhir kata dari lidah ku ini hai saudaraku, dimanapun engkau berada dan kapan pun kau membaca tulisan dari orang yang tiada berarti ini, ketahuilah bahwa orang yang matang keberagamaanya memiiki tiga hal:
“Dialah yang memberikan jiwa dan raganya pada siapapun atau apapun tanpa membedakan”,
“Dialah yang berdiri pada ketenangan dan kedamaian tidak mudah terpengaruhi tidak mudah sedih tidak mudah bahagia lebih keras dari batu yang paling keras, lebih lembut dari embun di pagi hari”
“dialah yang punyai Filsafat hidup dan selalu memegangnya”




[1]Al-Qur’an dan Terjemahnya (Bandung:Diponegoro, 2005), Hlm.32
[2] Abdurrahman Wahid, Islamku Islam Anda Islam Kita (Jakarta: The Wahid Institute, 2006), hlm. xv
[3] lihat Abdul Mustaqim, Epistemologi Tafsir Kontemporer (Yogyakarta: LKIS, 2012), hlm. 236.

No comments:

Post a Comment